Harapan Orang Tua dan Sumbangsih Besarnya Terhadap Ambyarnya Asmara

Harapan Orang Tua dan Sumbangsih Besarnya Terhadap Ambyarnya Asmara – Tatkala satu hubungan sudah dijalani dalam waktu yang cukup lama, tentunya potensi ambyar seringkali menghantui. Hal tersebut terbilang wajar dan tentu saja kalian enggak boleh marah bilamana itu terjadi. Bisa jadi, dalam suatu waktu kalian tiba-tiba dihadapkan dengan banyak permasalahan yang mungkin tidak pernah terpikirkan. Hal yang akan kalian hadapi diantaranya adalah tuntutan orang tua sang kekasih, yang banyak membuat hubungan asmara menjadi ambyar.

Hidup nyatanya memang pedih. Idealnya, saya ingin menjalani kisah cinta seperti yang ada pada anime, komik, atau novel. Semisal laki-laki dari kaum rakyat miskin kota jatuh hati pada perempuan cantik nan aduhai terpandang dari keturunan ningrat. Meski pada awalnya asmara sempat tertolak, tapi pada akhirnya mereka bersatu karena kebersamaan cinta yang sanggup melewati tantangan tujuh gunung dan tujuh samudra.

Nyatanya, permintaan model calon menantu ideal dari kedua orang tua turut memberi sumbangsih terbesar bagi potensi ambyarnya cinta. Lantas akan menjadi sebuah kisah tentang asmara yang kandas begitu saja.

Tak perlu jauh-jauh melihat dan mengambil contoh, karena saya adalah korban nyata dari potensi ambyar yang satu ini. Dalam beberapa tahun belakangan, saya terbilang dekat dengan seseorang yang bisa dibilang kuat secara teologis, seseorang dengan iman yang madhep-mantep. Meski pada faktanya saya sendiri adalah seseorang yang tidak begitu agamis dan cenderung bobrok sebenarnya.

Singkat cerita, saya harus mengubur dalam-dalam impian kami agar tetap bersama. Alih-alih berdampingan dalam satu panggung pelaminan, saya harus mencekik mati rasa yang sudah tumbuh dalam beberapa tahun belakangan. Lah gimana enggak, kekasih tiba-tiba bercerita bahwa orang tuanya meminta agar dia mendapatkan calon suami yang hafiz Qur’an. Sedangkan saya jangankan hafiz Qur’an, bacanya saja masih plegak plegok. Triqul tetap menjadi top chart dalam bacaan kasual saya tatkala sembahyang. Sekali lagi, mawas diri dan legowo hati adalah pilihan ramah bagi nurani.

Sial dikata memang, tapi keputusan kekasih dalam menghentikan hubungan kami bukanlah hal yang salah. Bila memang ada yang harus disalahkan, tentu itu adalah saya seorang. Selain syarat dari calon mertua yang menjulang setinggi langit, saya saat itu hanyalah seseorang yang berstatus sebagai freelancer. Tak ada penghasilan tetap, ditambah gelar sarjana yang tak lagi seksi di depan perusahaan, menjadi alasan yang dapat saya kambing hitamkan waktu itu. 

Dalam berbagai perbincangan di masyarakat, persoalan putus cinta karena kehendak orang tua tidak pernah menjadi hal yang sederhana. Kesadaran akan harapan orang tua yang kita serap sehari-hari turut membentuk pandangan kita mengenai cinta. “Kudu kaya”, “kudu pinter”, “kudu pengusaha”, “kudu pejabat”, “kudu hafiz”, beserta kudu-kudu yang lainnya. Cinta yang tak bermodalkan harta atau sesuatu yang fundamental seperti ilmu agama, hanya akan mengundang pertanyaan seperti “Nikah memangnya mau makan cinta?” dan “Mau jadi apa keluargamu bila tak berlandaskan pada agama?”. 

Harapan orang tua kepada anaknya sering jadi tembok penghalang yang sulit untuk dirobohkan. Satu ingin anaknya dinikahi dengan paket lengkap hafalan Qur’an, di sisi lain ingin mengusahakan berjuang tapi kudu bersabar dengan hafalan yang memang ah sudahlah. Komposisi bisa berbeda-beda. Masing-masing keras, masing-masing tak mengerti. Pada akhirnya, hubungan kandas menjadi hal yang tak terelakkan. 

Apakah kita tidak boleh mencintai orang dengan basic teologis yang lebih tinggi? Atau seseorang dengan kondisi lain yang nampak jomplang bila dibandingkan dengan diri kita? Saya kira sah-sah saja dan diharuskan memang. Tapi pada saatnya nanti, kalian harus memikirkan kenyataan-kenyataan yang ada. Masa depan apa yang kiranya menanti bila tak begitu siap dengan hal-hal sentimentil seperti hafalan Qur’an atau masalah lainnya. Jika kebetulan kalian mendapat pasangan yang mau menerima dan bisa mendobrak batasan, maka pertahankan.Tapi jika berakhir ambyar, maka terima saja. Hidup memang penuh dengan serangkaian kesialan, ditolak kerja, kuliah tak kunjung tuntas, negara yang dijalankan seenaknya, atau semangkuk mie yang numplek tepat sebelum dimakan. Tak ada cara mengobati rasa sakit selain menerimanya. Setidaknya, kalian telah berusaha semampunya, sebisanya, dan segagalnya. Suram ya. 

Seorang wibu yang paripurna. Sedikit gerak, banyak ngayalnya.

Artikel dari Penulis