Banyak Mahasiswa Mager, Joki Skripsi Makin Seger!

Banyak Mahasiswa Mager, Joki Skripsi Makin Seger! – Kalau ada satu pekerjaan mulia yang sering dinyinyiri orang, maka niscaya joki skripsi adalah salah satunya. Bagaimana tidak, konotasi negatif acapkali melekat pada pekerjaan ini. Bukan hanya pekerjaan, namun mereka yang meminta “dibantu” untuk diselesaikan skripsinya jadi ikut kena imbasnya. Berbagai anggapan langsung ternobatkan. Dari mahasiswa males, lelet, hingga tidak halalnya ijazah yang akan didapat bila lulus melalui bantuan joki skripsi. 

Karena sudah menyinggung halal haram, maka saya coba bahas sedikit masalah ini. Saya selaku penjoki yang pada awalnya tak bermasalah soal halal haramnya jasa ini, namun seiring berjalannya hari dan waktu, keimanan saya makin terusik tatkala mendengar omelan teman kos sekamar yang menyebut bahwa jasa ini tidak baik, sesat, bahkan cenderung tidak berkah uangnya. Sontak saya coba mencari beberapa referensi pada mesin pencari virtual.

Pada laman Bimbingan Islam, ada seorang pengunjung bertanya kepada ustadz soal  hukum joki skripsi. Jawaban yang dapat saya simpulkan adalah bahwa hukumnya tidak diperbolehkan apabila ide skripsi berasal dari sang penjoki sendiri. Yang dipebolehkan adalah bilamana Ide tersebut lahir dari yang meminta jasa, kemudian dilanjutkan kepada sang penjoki untuk dibantu penyelesaiannya. Berkaca pada hal tersebut, maka dengan lega hati saya bersyukur dan melanjutkan kembali sampingan ini. Karena saya pribadi selalu menerima data awal sebelum dikerjakan. Seperti judul, tujuan penelitian, metode hingga beberapa variabel penelitian.

Selain hal yang saya sebutkan diatas, tentunya terdapat segelumit cerita lain yang saya temui. Berbagai keunikan, cerita ndagel, tak lazim, dan agaknya nyeleneh kerap mewarnai kisah saya sebagai seorang penjoki. 

Baca juga: 4 Tips untuk Mahasiswa Agar Cepat Rampung Skripsi

Adanya Tim Penjoki Skripsi.

Layaknya struktural perusahaan ternama, diantara para penjoki sekalipun juga terbentuk tim dengan berbagai divisi di dalamnya yang sesuai dengan tugas masing-masing. Mulai dari divisi riset, IT, statistika, hingga divisi anti plagiasi. Semuanya berkesinambungan, meski terkadang jalan sendiri sesuai dengan order yang diterima. Di tim yang pernah saya temui, terdapat sekitar 7 orang. Pada divisi riset, biasanya yang digarap adalah bab 1 sampai dengan 3. Dari pendahuluan hingga metode penelitian. Enggak sampai menyentuh bab selanjutnya, karena selain telampau sulit, juga perlu effort lebih pada saat pengambilan data di bab 4 dan 5. Biasanya, orderan yang masuk telah berisikan judul penelitian, metode penelitian, dan paling enggak tujuan penelitian dari customer yang selanjutnya digarap oleh tim riset. 

Untuk divisi IT dan statistika ini biasanya berfokus pada bidangnya masing-masing, semisal IT bergelut pada program coding atau pembuatan modul aplikasi. Kalau statistik bertugas mengolah berbagai data yang masuk, lantas diolah dengan aplikasi SPS atau sejenisnya. 

Sedangkan tim plagiasi sendiri, sesuai namanya bertugas menurunkan hasil turnitin yang terlampau ndakik, tinggi ora ketulung. Saya biasanya bertugas di sini, membutuhkan kemampuan olah bahasa yang lumayan mumpuni. Modal otak-atik kata dan bongkar pasang kalimat. Meski secara hasil tidak lebih besar ketimbang tim lain yang hanya berkisar pada ratusan ribu rupiah. Bukan angka yang besar bila dibandingkan divisi lain, namun ini lebih dari lumayan untuk fresh graduate seperti saya. Jauh lebih baik ketimbang glimbang-glimbung scroll Tiktok atau reels Instagram di kamar, atau kegiatan menghabiskan waktu lain semisal menaikkan ranking pada permainan mobile.

Job tersembunyi lain adalah broker. Tentu saja, di belahan dunia manapun pada bagian pekerjaan apapun saya rasa dapat di makelarkan. Tak terkecuali jasa joki skripsi ini. Mereka biasanya adalah penjoki yang sudah populer, dikenal banyak orang karena sudah lama berkecimpung di dunia perjokian. Lantas menggandeng para penjoki solo yang tidak tergabung kedalam tim manapun. Menawarkan job, kemudian bagi hasil. Biasanya mereka mengambil keuntungan sekitar 5 hingga 20 persen dari total yang didapat. Bila satu skripsi dihargai sekitar 2 juta, maka mereka untung 100 hingga 400 ribu rup iah. 

Tawaran Ngawur.

Karena faktor dompet mahasiswa yang terlampau kembang-kempis, acapkali tawaran ngawur sering masuk dan mengudara melalui pesan pribadi di Whatsapp atau Instagram. Kadangkala penjoki bisa memahami, ditambah sedikit belas kasih akan cerita sedih yang sering mengiringi, terkadang luluh juga isi hati. 

“Tolong banget mas, uang saya mepet. Saya juga masih harus bekerja untuk membantu membayar listrik di kampung. Belum lagi untuk biaya sehari-hari saya disini.” 

Permintaan seperti itu adalah salah satu hal yang mengetuk nurani saya sebagai manusia, atau lebih tepatnya mantan mahasiswa. Saya memahami betul tentang hasrat agar segera lulus dan tak lagi jadi beban orang tua. Di sisi lain, dosen adalah tekanan tersendiri yang sering menghantui. Seolah jadi tembok besar yang menghalangi mahasiswa akhir menuju garis kelulusan. Apabila sudah sampai pada titik ini, asal tidak terlampau ngawur, kadang kala masih menerima beberapa tawaran dengan harga diskon. Nilainya sangat relatif dan bergantung pada perasaan yang terketuk saat itu. Kadang bisa diskon 10, 20, hingga 40%. Bukan main. Barangkali ini termasuk sedekah saya selaku penjoki skripsi dengan jalan yang lain. Tidak harus sedekah lewat masjid.

Selain berpatokan pada kisah yang begitu sedih juga melas, tawaran ngawur ini juga tak jarang terlahir dari mahasiwa akhir dengan penawaran sadis nan nggateli. Menawar dengan nada tinggi sambil berkata “Halah gitu tok ae lho kog mahal”. 

Lah kalau memang begitu, mbok ya digarap sendiri. Dan tawaran ngawur ini acapkali berasal dari kawan dekat sendiri. Memakai kode sakral guna dapat diskon gede-gedenan. Harga teman, katanya. 

Dari Ratusan Ribu, Hingga Jutaan per Minggu.

Mari kesampingkan mereka yang melakukan penawaran yang tak logis. Disamping itu, tentu banyak mahasiswa akhir yang normal dan ngregani. Tak banyak tanya ketika tau harganya, langsung “Nggih, deal ya mas”.  Dalam seminggu, katakanlah ada 2-3 kerjaan yang masuk. Dengan skala pendapatan ratusan ribu, hingga sejutaan per minggunya. Angka ini lebih dari cukup buat hidup sehari-hari di perantauan. Sesekali, juga bisa dibuat beli barang yang agaknya sedikit mahal. Atau buat nabung juga oke. Hal tersebut tergantung seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya.

Kendati demikian, jumlah tersebut tak selalu dapat dijadikan sandaran hidup. Penghasilan freelance memanglah tidak menentu. Kalau lagi sepi-sepinya, sebulan bisa hanya ada 2 kerjaan, tak lebih. Itupun kadang cuman revisian sederhana, yang pendapatannya enggak sampai 500 ribu. Apalagi untuk saya yang biasanya hanya bergelut pada revisi artikel dan parafrase. Kadang juga enggak begitu kacek kalau buat satu-satunya sumber pendapatan. 

Nerawang Revisi via Ilmu Batin.

Tak jarang mahasiswa yang meminta tolong untuk direvisikan skripsinya hanya bermodalkan note dari dosen tanpa mengetahui maksud jelas dari revisi tersebut. Belum lagi bila tulisannya yang ndilalah susah dibaca. 

Pokok e iki ya, mas. Minta tolong selesai secepatnya.” 

Dan ini tak kalah merepotkan dari mereka yang menawar dengan harga ngawur. Atau malah lebih merepotkan. Sudah deal dengan harga yang sesuai, tapi kita yang diminta menerjemahkan sendiri revisi yang diberikan. 

Yang saya kira anda semuanya barangkali sudah tau, revisi dosen acapkali susah dimengerti secara tulisan telanjang. Ini perlu diskusi secara lisan 2 arah dengan dosen agar mahasiswa dapat memahami revisi yang dimaksud. Lah kalau sudah begini, terkadang saya memberikan penegasan kembali, bahwa revisi ini berdasar atas pendapat saya pribadi. Yang terkadang banyak benarnya, juga sesekali salah. Aktivitas joki skripsi ini memang tak sesederhana yang dijelaskan. Lebih rumit daripada itu. Bila menilik dari segi bisnis, ini tentu memang menguntungkan. Jadi win-win solution buat mereka yang perlu pemasukan, dan mereka yang sedang macet skripsiannya. Entah macet karena revisi yang tak kunjung tuntas, atau macet karena rasa malas yang terlampau trengginas. Terlepas dari itu semua, tentu sudah banyak mahasiswa yang terbantu olehnya.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Designer: Design by Ghani

Seorang wibu yang paripurna. Sedikit gerak, banyak ngayalnya.

Artikel dari Penulis