Asal Muasal Makna Sepak Bola Gajah

Beberapa waktu yang lalu publik sepak bola Indonesia sempat dibuat heboh khususnya pada ajang internasional. Kali ini bukan tentang prestasi yang menjadi permasalahannya. Melainkan indikasi adanya match fixing atau yang lebih dikenal dengan “Sepak Bola Gajah” yang dilakukan oleh tim nasional Vietnam dan tim nasional Thailand dalam gelaran AFF U-19 yang dilaksanakan di Indonesia pada bulan Juli 2022. 

Pasalnya kedua tim tersebut seakan-akan enggan untuk menang demi menjaga peluang lolos dari babak grup. Laga berakhir dengan skor sama kuat yakni 1-1. Di lain tempat tim nasional Indonesia yang sedang memerlukan hasil menang, berharap Thailand dan Vietnam saling mengalahkan agar bisa lolos, harus menelan pil pahit karena kalah Head to Head dengan Thailand dan Vietnam. Meski pada laga terakhir menang besar dengan skor 5-1.

Baca juga: Menilik Mentalitas Tidak Sabaran Orang Indonesia di Balik Tagar #STYOUT

Sontak hal ini menyebabkan publik sepakbola Indonesia menjadi marah karena menganggap Thailand dan Vietnam main mata untuk tidak saling mengalahkan agar sama-sama lolos ke babak selanjutnya. Publik sepakbola Indonesia menjuluki kedua tim tersebut sedang melakukan “Sepak Bola Gajah”. Mungkin bagi sebagian orang awam masih belum paham arti dari “Sepak Bola Gajah” tersebut. Jika kita runut dari sejarahnya ternyata arti sepak bola gajah ini ada kaitannya dengan persepakbolaan nasional di masa lalu.

Berawal dari Piala Tiger 1998

Bagi penggemar sepak bola nasional pastinya sudah tahu dengan kisah yang terjadi di gelaran Piala Tiger 1998 yang kini telah berubah nama menjadi AFF Championship. Bukan karena prestasi yang menjadi buah bibir kala itu, namun adanya skandal sepak bola terburuk yang pernah dilakukan oleh tim nasional Indonesia. Hal inilah yang menjadi cikal bakal istilah dari “Sepak Bola Gajah” yang sangat terkenal di kalangan publik sepak bola nasional hingga saat ini.

Kala itu Indonesia harus berjumpa dengan Thailand dalam laga terakhir untuk menentukan juara grup. Kedua tim sudah memastikan tiket maju ke babak selanjutnya dan tinggal menentukan siapa yang akan menjadi pemuncak klasemen. Akan tetapi kedua tim sama-sama seolah enggan menang demi menghindari berjumpa dengan Vietnam di grup lain yang menjadi runner-up

Ketika laga masih berjalan imbang 2-2, bek Indonesia kala itu yakni Mursyid Effendi melakukan gol bunuh diri yang memang terkesan sengaja. Indonesia pun harus kalah 2-3 dari Thailand kala itu. Sontak hal ini pada akhirnya menjadi sorotan publik sepak bola ASEAN karena ada indikasi melakukan match fixing

Pada akhirnya FIFA menjatuhi hukuman pada Mursyid Effendi tidak boleh lagi bermain di ajang internasional. Sedangkan PSSI menjatuhinya hukuman larangan bermain seumur hidup. Namun pada akhirnya direvisi menjadi satu tahun saja. Hal inilah yang menjadi awal mula populernya istilah “Sepak Bola Gajah”. Kedua tim ibarat gajah yang sedang bermain bola dan ada pawang yang mengendalikan gerakannya.

Di lingkup sepak bola lokal sendiri skandal semacam ini sudah terjadi sejak medio tahun 1980-an. Bahkan hingga era modern ini, ada beberapa laga dalam dunia sepak bola Indonesia yang terindikasi sebagai “Sepak Bola Gajah”. Pelakunya berasal dari beragam klub maupun tim. Ada yang berlaga di event profesional dan juga event amatir. Ada yang mendapat sorotan hingga diusut tuntas namun ada pula yang kasusnya hilang begitu saja.

Mencederai Sikap Fair Play

Skandal sepak bola gajah ini tentunya sangat dikecam oleh berbagai kalangan. Bagaimana tidak, skandal seperti ini sangat mencederai sikap sportif dan fair play dalam dunia olahraga. Bahkan ada yang bilang lebih baik gagal terhormat daripada harus menang dengan sebuah kecurangan.

Baca juga: Tantangan Menjadi Minoritas di Tengah Kota yang Mayoritas Rival

Namun tentu saja hal ini tidak semudah kelihatannya. Belum lagi publik sepak bola di belahan dunia manapun ingin timnya, khususnya tim nasional negaranya berprestasi di tingkat internasional. Tentu saja harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dalam dunia olahraga. Sehingga hal-hal yang penuh kecurangan seperti match fixing ini sebisa mungkin harus dihindari.

Pihak-pihak terkait juga telah memberlakukan beragam cara untuk mengantisipasi adanya kemungkinan match fixing dalam dunia sepak bola. Mulai dari aturan regulasi kompetisi, jam pertandingan yang akan bersamaan ketika laga terakhir, serta menjatuhi hukuman berat bagi siapapun pihak yang terbukti melakukan match fixing atau sepak bola gajah. Tentu saja hal tersebut tidak mudah untuk diberantas, karena betapa sulitnya melakukan penyelidikan pada sebuah kasus match fixing terlebih lagi jika ada “pihak-pihak” yang seakan-akan menutupi skandal tersebut.

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Salman Al Farisi

Mahasiswa Yang Hobi Jalan-Jalan Dan Menulis Agar Tidak Hilang Dari Roda Zaman.

Artikel dari Penulis