Pengertian Silogisme, Jenis, dan Contohnya

Artikel ini akan membahas lengkap tentang silogisme, mulai dari pengertian silogisme, tipe atau jenis, beserta contohnya.

Pengertian

Silogisme adalah metode penalaran deduktif guna memperoleh suatu kesimpulan yang benar. Funngsinya sebagai metode untuk mengambil kesimpulan dari suatu permasalahan atau premis-premis yang ada. Sehingga secara umum, ia mempunyai cakupan tiga proposisi. Proposisi yang pertama adalah premis mayor, kedua adalah premis minor, dan ketiga adalah hasil kesimpulan dari premis-premis tersebut. Premis mayor memiliki makna generalisasi (penyamarataan), sedangkan premis minor memiliki makna pernyataan secara khusus. Premis dan kesimpulan dalam silogisme memiliki tautan yang erat. Validitas atau kebenaran dari premis-premis akan menentukan kebenaran dari kesimpulannya.

Tipe atau Jenisnya

Silogisme sendiri memiliki tiga tipe atau jenis, yaitu silogisme kategoris, silogisme hipotesis, dan silogisme alternatif. Berikut penjelasan beserta contoh dari tiap-tiap tipe:

1. Silogisme Kategoris

Sesuai dengan Namanya, silogisme kategoris mempunyai proposisi secara kategoris dan terstruktur. Perlu diingat, dalam tipe ini, terdapat generalisasi atau penyamarataan kalimat pertama di premis mayor, sedangkan premis minor menjadi penegas premis mayor yang nantinya akan ditemukan kesimpulan dari dua premis tersebut.

Baca juga: Tips Menulis Opini di Media

Semua unggas bertelur (Premis mayor)
Ayam adalah unggas (Premis minor)
Ayam bertelur (Kesimpulan/konklusi)

Hal penting di dalam silogisme kategoris adalah adanya aspek term, berupa struktur tiga term (subjek, predikat, dan penengah). Pada contoh di atas, term subjek mengacu pada “ayam”, term predikat mengacu di kata “bertelur”, dan term penengahnya adalah “unggas”. Term sangat penting di dalam silogisme kategoris, karena kesimpulan atau konklusi dapat muncul dari term penengah yang berpengaruh pada mayor premis dengan premis minor. Pada contoh di atas, jika tidak ada term penengah “unggas”, maka tidak akan dapat ditarik kesimpulan.

Selain term, hal yang perlu diperhatikan adalah hukum-hukum dari silogisme kategoris itu sendiri. Berikut hukum-hukum yang dimaksud beserta dengan contohnya.

1. Apabila salah satu premis bersifat partikular (khusus), maka kesimpulan harus bersifat partikular

Semua tumbuhan yang berklorofil melakukan fotosintesis (Premis mayor)
Beberapa tumbuhan tidak melakukan fotosintesis (Premis minor)
Beberapa tumbuhan tidak berklorofil (Konklusi)

2. Apabila salah satu premis bersifat negatif, maka kesimpulan harus bersifat negatif

Semua kota di Indonesia tidak bersalju (Premis mayor)
Kota Tokyo bersalju (Premis minor)
Kota Tokyo bukan kota di Indonesia (Konklusi)

3. Apabila kedua premis bersifat partikular, maka tidak dapat ditarik kesimpulan

Sebagian kampus negeri masih WFH (Premis mayor)
Kampus A adalah kampus negeri (Premis minor)

Kedua premis di atas tidak dapat ditarik kesimpulan. Jika memang harus, maka kesimpulannya akan berbentuk kemungkinan atau probabilitas. “Kampus A mungkin masih WFH”.

4. Apabila kedua premis bersifat negatif, maka tidak dapat ditarik kesimpulan karena keduanya tidak memiliki rantai penghubung satu sama lain.

Vario bukan merek mobil (Premis mayor)
Mega Pro bukan merek mobil (Premis minor)

Tidak dapat ditarik kesimpulan.

5. Apabila term penengah tidak tentu, maka tidak dapat ditarik kesimpulan.

Semua burung bertelur (Premis mayor)
Binatang ini bertelur (Premis minor)

Tidak dapat ditarik kesimpulan karena kurang tentunya term penengah, dalam contoh di atas adalah “bertelur”. Jika ditarik kesimpulan akan menjadi tidak valid “binatang ini adalah burung”, sedangkan bisa saja binatang ini bukan burung. Bisa saja reptil, ayam, ikan, atau binatang bertelur lainnya.

6. Term predikat pada kesimpulan harus konsisten dengan term predikat pada premisnya.

Indonesia adalah negara anggota ASEAN (Premis mayor)
Malaysia bukan Indonesia (Premis minor)

Jadi, kesimpulannya Malaysia bukan negara anggota ASEAN?

Term predikat pada kesimpulan bersifat negatif, sedangkan pada premis mayor bersifat positif.

7. Term penengah pada kedua premis harus memiliki makna sama. Jika maknanya berbeda meskipun penulisan katanya sama, maka kesimpulan akan menjadi kacau.

Semua bulan adalah satelit (Premis mayor)
September adalah bulan (Premis minor)
Kesimpulannya September adalah satelit?

8. Harus mengandung 3 term, yaitu subjek, predikat, dan penengah.

Sesuai dengan penjelasan sebelumnya.

Baca juga: Cara Menulis Footnote (Catatan Kaki) Lengkap Sistematika dan Contoh

2. Silogisme Alternatif

Seperti namanya, premis mayor pada silogisme ini memiliki alternatif, dalam artian ada opsi lain dalam premis mayornya. Sedangkan premis minornya merupakan pernyataan atau penegasan dari salah satu opsi di premis mayor. Hasil kesimpulannya (konklusi) menghasilkan pernyataan mutlak atas opsi yang lain.

Contoh:

Kuchuz sedang menempuh kuliah di ITS atau UB (Premis mayor)
Kuchuz kuliah di ITS (Premis minor)
Kesimpulannya, Kuchuz tidak kuliah di UB (Konklusi)

3. Silogisme Hipotesis

Di dalam silogisme ini, premis mayornya merupakan hipotesis, sedangkan premis minornya mengandung pernyataan kategoris. Contohnya:

Jika hari ini mendung, Aziz tidak pergi ke rumah Fadilla (Premis mayor)
Hari ini mendung (Premis minor)
Aziz tidak pergi ke rumah Fadilla (Konklusi)

Metode penalaran deduktif melalui silogisme ini memiliki manfaat bagi kepenulisan, salah satunya berfungsi untuk merangkai kalimat paragraf deduktif. Selain itu, silogisme membantu kita untuk merangkai kalimat agar antar kalimat dapat berkaitan satu sama lain secara logis sehingga menurut saya pemahaman silogisme harus dapat dipahami seorang penulis.

Editor: Daliana Fehabutar
Illustrator: Made Mirah

Kennis zonder daad is doelloos, daad zonder kennis is richtingloos.

Artikel dari Penulis