Buat Apa Sih Kita Harus Belajar Menulis Berita?

Buat Apa Sih Kita Harus Belajar Menulis Berita?

Bulan Ramadan lalu, kebetulan saya diminta untuk mengisi diskusi bertemakan jurnalistik. Diskusi ini diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Prodi (Himaprodi) dari salah satu kampus di Mojokerto. Kegiatan ini berangkat dari keinginan mereka untuk membuat wadah, dimana menjadi sarana mahasiswa untuk mengaktualisasikan bakat dalam kepenulisan dan jurnalistik. Sependek pengetahuan saya, ini adalah kali pertama mereka berusaha membentuk wadah semacam ini.

Sepintas, kami mendiskusikan iklim organisasi disini dengan kampus saya di UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya yang sangat berbeda. Ketika di UINSA, seluruh organisasi intra mahasiswa telah mendapat support dana dari rektorat, sedangkan disini tidak. Namun menggunakan uang pribadi maupun sponsorship untuk menjalankan kegiatannya. Jumlah organisasi pun kurang bervariasi tidak seperti di UINSA. Disini, tidak ada organisasi semacam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang mewadahi minat jurnalistik dan kepenulisan.

Saya pun teringat tulisan Ane Permatasari dalam sebuah artikel berjudul Membangun Kualitas Bangsa Dengan Budaya Literasi yang terbit tahun 2015. Artikel itu membahas sebuah isu yang serius. Yaitu terkait literasi masyarakat Indonesia. Permatasari membuka pembahasan dengan menjelaskan bahwa UNESCO pernah mencatat indeks minat baca di Indonesia yang baru mencapai 0,001. Artinya, untuk setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang memiliki minat membaca.

Baca juga: Membacalah, Tapi Jangan Bodoh

Orang-orang di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Kondisi ini lebih rendah dibandingkan jumlah penduduk di negara-negara anggota ASEAN yang membaca dua hingga tiga buku dalam setahun. Sebagai perbandingan, warga Jepang membaca sebanyak 15 buku dalam setahun sedangkan warga Amerika Serikat terbiasa membaca 10-20 buku per tahun. Tingkat literasi kita juga hanya berada di peringkat 64 dari 65 negara yang disurvei. Fakta menyedihkan lainnya adalah tingkat membaca siswa Indonesia hanya menempati peringkat 57 dari 65 negara.

Berbicara tingkat literasi kita hari ini, khususnya bagi mahasiswa adalah sebuah tantangan besar. Kebanyakan mahasiswa yang saya temui mengatakan bahwa mereka sulit untuk membaca buku. Lah ini teman-teman Himaprodi dalam diskusi tadi malah menyatakan ingin membuat wadah untuk mengembangkan kepenulisan. Bahkan sampai jurnalistik segala. Maka, saya sangat mengapresiasi usaha dari teman-teman yang memiliki keinginan untuk menciptakan wadah semacam itu di tengah segala keterbatasan.

Kami lantas mendiskusikan apa saja yang ingin dikembangkan terlebih dahulu. Lalu sejauh mana kemampuan teman-teman dalam meramu gerakan. Ini penting karena keinginan harus diseimbangkan dengan kemampuan. Mereka ingin mengembangkan dua aspek, yaitu kepenulisan populer dan jurnalistik. Kepenulisan populer berkaitan dengan tulisan sederhana berupa esai, opini maupun artikel yang dimuat pada media digital, seperti Kapito.id ini contohnya. Sedangkan pembahasan terkait jurnalistik tidak akan terlepaskan dari berita.

Lalu kami mulai membicarakan berita. Secara sederhana, berita adalah laporan wartawan tentang fakta. Karena ada banyak fakta dalam kehidupan atau realitas sosial, lalu apakah fakta atau realitas itu berita? Jelas tidak, karena fakta itu akan menjadi berita begitu dilaporkan oleh seorang jurnalis. Oleh karena itu berita merupakan konstruksi fakta.

Baca juga: Membaca dengan Gembira

Namun apa pentingnya belajar menulis berita? Tidakkah menulis cerpen maupun opini terasa lebih menyenangkan? Sebelum membahas ini lebih dalam, mari kita kembali pada 2006 lalu. Sekitar 16 tahun lalu, terjadi bencana yang kita kenal dengan sebutan “Lumpur Lapindo”. Bencana tersebut bermula dari kebocoran sumur pengeboran gas milik PT. Lapindo Brantas dan pertama kali terjadi di Desa Renokenongo Kecamatan Porong Sidoarjo Jawa Timur.

Lalu pada 2011 silam, terbit sebuah laporan yang diterbitkan Tempo berjudul TVOne Bantah Selewengkan Nama Lumpur Lapindo. Hal ini karena TVOne lebih sering menyebut lumpur lapindo sebagai “Lumpur Sidoarjo” di saat media lain menyebutnya sebagai “Lumpur Lapindo”. Mengapa TVOne berbeda dari yang lain? Silahkan pembaca cari hubungannya dengan mencari tahu siapa pemilik PT. Lapindo Brantas dan TVOne. Silahkan berspekulasi sendiri dan kalau bisa menyimpulkan dengan data serta melakukan penelitian.

Beranjak ke berita lainnya: Polisi Tangkap Ibu Pembuang Bayi yang Jasadnya Dimakan Anjing Liar di Garut. Sebagai manusia dengan hati nurani, mungkin dari mulut kita akan keluar komentar semacam, “Tega banget si perempuan!”. Namun pernahkan kita bertanya-tanya, siapa laki-laki tersebut? Kenapa banyak berita terkait hal itu yang banyak sekali memberitakan si perempuan saja? Apakah kesalahan itu adil jika dilekatkan kepada si perempuan semata? Tidakkah kita berpikir bahwa hamil di luar nikah, sendirian di kota besar, dan laki-lakinya ngeghosting adalah sebuah beban mental yang besar.

Kedua contoh di atas adalah bukti bahwa berita sangat menarik untuk dipelajari. Berita itu sangat penting di tengah kehidupan kita yang memerlukan informasi. Tapi nyatanya tidak semua berita ditulis dengan kaidah-kadiah yang benar. Terlebih, pembacaan yang tidak kritis hanya akan melahirkan kebodohan untuk pembacanya. Berita sangat mungkin akan mempengaruhi bagaimana masyarakat berpikir lalu bertindak.

Belajar terkait hal ini akan mampu membuat mahasiswa menjadi lebih kritis. Dari analisis isinya sampai mengungkap kepentingan di baliknya. Dalam konteks mahasiswa, berita yang diproduksi melalui aktivitas jurnalistik sangat mungkin untuk menciptakan kebermanfaatan yang besar. Pernahkah kita bertanya-tanya tentang tokoh besar lulusan kampus kita, bertanya-tanya tentang informasi beasiswa, informasi terkait tempat magang, dsb. Kegiatan jurnalistik yang dilakukan mahasiswa diharapkan mampu menjawab kebutuhan akan informasi seperti ini. Menjadi mahasiswa yang bermanfaat bagi sesamanya, kenapa tidak?

Editor: Firmansah Surya Khoir
Illustrator: Natasha Evelyne Samuel

Masih bercita-cita menjadi manusia. Pernah hijrah tapi sekarang putar balik. Seorang wibu radikal yang nyamar menjadi akademisi.

Artikel dari Penulis