Jadilah Senior yang Berhati Luhur!

Jadilah Senior yang Berhati Luhur! – Budaya ospek di lingkungan kampus membuat sebagian orang jengkel sekaligus jadi semacam kesempatan bagi para senior untuk membalas pengalaman yang dulu mungkin pernah mereka alami semacam tindakan kekerasan. Pasalnya kekerasan itu terjadi setiap tahun dan turun-temurun di setiap angkatan.

Para senior yang tidak memiliki kesabaran (saya pilih sebagai kata ganti tidak sehat atau tidak waras) itu perilaku mereka seperti kerasukan seekor garangan. Mereka menjerit-jerit bagai petir yang menggelegar apabila salah satu di antara mahasiswa baru (maba) tidak mau mengikuti perintah atau aturan yang dibuat olehnya. Mereka kerapkali menggunakan kekuasaan atau wewenang yang mereka punya untuk membentak maba sebagai pelampiasan egonya.

Tulisan ini bercerita tentang budaya ospek yang bagi saya agak kurang sehat (secara agama maupun kultur sosial pendidikan) sekaligus tanggapan saya terhadap senior amatir yang gemar marah-marah nggak jelas di depan junior yang sering kali jadi sasaran senior yang arogan.

Beberapa hal penting yang perlu kita sepakati bersama di sini adalah budaya ospek dengan cara-cara kekerasan (semisal urak-urak’an, semena-mena, teriak-teriak terhadap maba) bukanlah budaya ospek yang dapat meningkatkan mental maba. Itulah alasan “Meningkatkan mental maba” yang sering kali digunakan untuk melegitimasi tindakan tidak senonohnya.

Budaya lingkungan di kampus saya banyak sekali kekacauan yang perlu saya ghibahin di sini. Masih segar dalam ingatan saya, dua tahun lalu, ketika saya mengikuti ospek (di kampus maupun di organisasi) yang menurut saya tidak masuk akal sehat blas secara agama maupun secara manusiawi.

Pernah suatu ketika kawan saya bercerita perihal pengalaman ospek yang dia ikuti. Dia bercerita ketika akan meminta izin kepada seniornya untuk melaksanakan salat karena waktu salat akan habis. Dengan wajah ramah nan polos khas maba dia meminta izin kepada seniornya mengikuti aturan yang berlaku. Namun naas, dia malah mendapat bentakan kasar oleh senior bermuka macam garangan itu. ”Ini jam kegiatan, Dek! Nggak usah salat-salatan!” katanya.

Tentu saya percaya pengalaman dengan para garangan itu, karena saya sendiri pernah mengalami hal serupa dari senior macam garangan yang keberadaannya sangat masif di dunia kampus. Senior macam mereka ini bukan hanya merugikan mental mahasiswa baru tetapi juga (disadari atau tidak) ingin menjauhkan Tuhan dari dalam diri para maba ini dan menjadikan mereka atheis mungkin pula agnostik!

Sebagai makhluk yang percaya adanya Tuhan, saya tidak sepakat dengan tingkah laku macam setan itu. Saya tak habis pikir. Orang-orang yang berbeda agama dengan saya saja tidak segalak dan seekstrem mereka. Orang-orang yang berbeda agama dengan saya lebih banyak seperti air mengalir bak kasih sayang. Saya khawatir kalau ada senior semacam mereka tumbuh dan berkembang di kampus ternama tidak menjadikan dia menjadi manusia yang toleran.

Bukankah semua agama dan pancasila telah mengajarkan kita untuk saling toleran dan membiarkan kita bebas dalam beragama, bernegara dan berpendidikan? Bukankah izin dengan sopan santun itu budaya Indonesia yang perlu kita rawat dan kita jaga bersama? Mengapa pula ada mahasiswa (senior) galak macam garangan? Lalu pada titik teladan mana junior mencontoh budi luhur senior macam mereka itu? Saya rasa fungsi ilmu membebaskan keyakinan manusia, bukan untuk menghalang-halangi manusia lain menjalankan keyakinannya.

Tetapi kita tidak bisa mengelak adanya mahasiswa semacam mereka. Yang mungkin dapat kita lakukan hari ini yaitu dengan memberi pesan kepada seluruh mahasiswa tanah air agar (menjadikan diri kita) tidak menjadi seperti mereka. Sebab jika kita menjadi mahasiswa macam mereka (tidak lain dan tidak bukan) kita telah merusak agama dan negara (meski slogan ini agak terlalu ekstrem).

Hierarki senioritas dan junioritas dalam dunia kampus ini kalau dibiarkan akan merusak tatanan sosial pendidikan, merusak mental maba, merusak keberagamaan, dan menggangu proses pembelajaran. Karena bisa jadi senior yang merasa paling hebat, paling kuasa dan paling wah itu kelak bukan saja bisa melegitimasi tindakan bejatnya, melainkan menghalalkan berbagai macam cara untuk memuaskan nafsu egonya.

Dengan alasan apapun melakukan tindakan semena-mena kepada sesama mahasiswa, apalagi sampai melarang maba untuk beribadah dalam kondisi apapun. Meskipun maba tersebut telah mentaati peraturan yang berlaku. Menurut saya akan merugikan kedua belah pihak yang terkait (baik itu senior maupun juniornya). Sebagai penutup tulisan ini saya berpesan: Jadilah mahasiswa pembelajar yang mampu menjadi pendengar yang baik dan menjadi manusia yang luhur. Eh, kenapa saya tiba-tiba jadi hakim dan inspirator? Entahlah.

Lahir dan berdikari di Jember. Mahasiswa Prodi Manajemen Zakat dan Wakaf UIN Khas Jember. Belajar menulis puisi, esai, opini, dan catatan remeh-temeh lainnya. Pemuda ini nggak makan ikan laut maupun ikan sungai, nggak ngerokok tapi suka ngopi.

Artikel dari Penulis