Duka Abadi Mahasiswa Organisasi: Di-ghosting sampai Pontang-Panting Sendiri

Duka Abadi Mahasiswa Organisasi: Di-ghosting sampai Pontang-Panting Sendiri

Mengurus organisasi mahasiswa itu menyenangkan. Banyak sekali pengalaman dan tantangan yang menjanjikan. Sekaligus cobaan dan ratapan yang menambah beban.

Selama mengikuti dan mengamati bagaimana roda organisasi mahasiswa itu berjalan, sepertinya di mana pun organisasi mahasiswa, masalah utamanya selalu sama. Tidak jauh-jauh dari problem sumber daya manusia (SDM). 

Ada organisasi yang kekurangan SDM. Ada juga yang ditinggal pergi SDM. Sampai ada yang punya keduanya. Udah anggotanya dikit, pada ilang-ilangan pula. Paket komplit deh pokoknya! 

Semangat menggebu di awal recruitment, nyatanya tak menjamin seseorang akan bertahan di organisasi sampai masa jabatan selesai. Banyak faktor tentunya. Dari faktor yang bisa dimaklumi, sampai yang gak habis thinking meski direnungi.

Faktor yang bisa dimaklumi, contohnya begini: Saya pernah punya teman yang orang tuanya meninggal. Sementara dia adalah anak tunggal. Dia minta maaf karena akan jarang aktif di organisasi setelah ini. Ada juga yang sedang mengurus organisasi double-double. Ada juga yang dituntut keadaan untuk bekerja paruh waktu.

Baca juga: 4 Kelakuan Norak Mahasiswa Tua kepada Mahasiswa Baru

Kesamaan mereka itu satu: menjelaskan situasinya lalu izin untuk menjadi anggota semi-aktif atau bahkan tidak aktif lagi. Semua sama-sama membuka kran komunikasi. Sikap mau terbuka satu sama lainlah yang membuat kami saling memaklumi situasi. 

Akan tetapi, masih ada juga yang ghosting tanpa sebab. Misalnya, di saat sedang padat-padatnya kegiatan dan rapat, satu-dua puluh bahkan separuh anggota menghilang entah kemana. Padahal, kita tak sedang berada di segitiga bermuda.

Padahal, sejak diajak rapat jauh-jauh hari, bilangnya iya. Pada saat hari-H, malah hilang dengan seribu alasan. Ada juga yang menghilang tidak bilang apa-apa, tapi snap WhatsApp-nya lagi nongkrong asyik, jalan-jalan bersama pacar. Kalau antri sembako minyak goreng, sih, masih bisa kita maklumi. Apalagi kalau rapatnya daring, pasti alasannya jaringan. Tapi diam-diam mabar Mobel Lejen.

Temen model begini, kadang besok-besoknya bakal memprotes hasil rapat. Dan, tak jarang kita masuk dalam kondisi terpaksa untuk merevisi keputusan. Ujung-ujungnya ya rapat lagi, rapat lagi. Padahal, waktu yang terbuang itu bisa digunakan untuk hal hal yang bermanfaat, mengkritik pemerintahan Jokowi, misalnya.

Ada sih yang tidak protes. Tapi saat satu-dua kegiatan setelah rapat itu tidak ikut. Alasannya, “Saya tidak ikut rapat, jadi tidak tahu apa-apa” dan memilih jalan keluar untuk diam saja enggak ngapa-ngapain.

Baca juga: Beasiswa Bank Indonesia, Rekomendasi untuk Kalian Para Mahasiswa!

Padahal, hasil rapat sudah di-share di grub, bahkan dikirim satu-satu ke chat pribadi. Tinggal dibaca, kalau kurang paham,, tinggal tanya. Tulisannya juga rapi tidak seperti tulisannya dokter. Tapi kenapa masih susah dibaca? Tidak tahu atau tidak mau tahu? 

Di lain waktu, saya pernah mengajak teman-teman divisi untuk rapat daring. Kita sudah sepakati waktunya. Pada saat rapat dimulai, saya share link Google Meet. Sepuluh-dua puluh menit, tidak ada yang bergabung. 

Lalu, satu teman bergabung, saya sapa, eh dia malah keluar. Saya mencoba positif thinking. Mungkin jaringannya error. Saya mencoba menunggu kembali. Sampai satu jam berlalu. Akhirnya berakhirlah rapat yang isinya hanya saya seorang.

“Alhamdulillah, sudah berakhir rapat yang saya mulai sendiri, dimoderatori oleh saya sendiri dan diikuti oleh saya sendiri,” begitu tulis saya di Grup WhatssApp saat menyampaikan hasil rapat.

Sibuk, begitulah alasan yang amat klasik dari mereka. Akan tetapi, ada juga yang punya alasan berbeda. Karena kecewa, misalnya.

Sering juga saya temukan mereka yang kecewa lalu menghilang begitu saja dari tanggung jawab sebagai bentuk pemberontakan. Kadang kecewa karena keputusan, jalannya roda manajemen organisasi, maupun perbedaan pendapat.

Padahal, sebenarnya beda pendapat itu wajar. Menghilang itu yang tidak wajar. Jangankan kita, Iron Man dan Captain Amerika juga pernah bersebrangan pendapat. Akhirnya mereka gelud dalam Civil War. Ini bisa ditiru, walaupun gelud-nya mahasiswa ya adu argumen.

Justru dengan itu, kita akan belajar bagaimana caranya mengatasi perbedaan pendapat. Menjadikannya sebagai alasan kuat, bukan malah beda pendapat dikit, eh ngilang.

Padahal bisa diselesaikan dengan sering-sering bertemu agar terjadi diskusi intens dan membangun kesamaan paradigma. Prosesnya memang begitu karena menyatukan perbedaan butuh waktu.

Organisasi yang anggotanya hobi ngilang itu sebenarnya rawan. Terlebih kalau yang ghosting sudah menjabat di kepengurusan. Karena jelas memikul tanggung jawab moril yang besar. Salah satunya adalah mengayomi adik-adik kelas yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan besok.

Dengan keegoisan seperti ghosting tidak jelas, akhirnya kader akan kurang diayomi secara maksimal. Bisa jadi mereka tumbuh menjadi kader yang tidak siap secara kapasitas. Pelan tapi pasti, organisasi akan mengalami dekadensi.Dari sini, terkadang saya jadi berpikir. Kita yang masih aktif ini salah dimana? Kita yang kurang dewasa menyikapi keadaan atau kita yang memang tidak becus menyatukan kekuatan? Entahlah, sulit dimengerti, semoga kalian yang ghosting cepat kembali.

Editor: Widya Kartikasari
Illustrator: Natasha Evelyne Samuel

Masih bercita-cita menjadi manusia. Pernah hijrah tapi sekarang putar balik. Seorang wibu radikal yang nyamar menjadi akademisi.

Artikel dari Penulis