Bisakah Robot Masuk Islam?

Bisakah Robot Masuk Islam

Bisakah Robot Masuk Islam? – Pernahkah teman-teman melihat film Wall E, Big Hero, I-Robot, Terminator atau film-film lainnya yang bertemakan tentang robot? Walaupun memiliki alur cerita yang berbeda-beda, tetapi semua film tersebut memiliki satu premis yang sama, yakni ketika pada akhirnya robot memiliki kesadaran. 

Terkesan tidak masuk akal? Dulu saya berpikir kalau semua cerita itu tak lebih dari sekedar fiksi ilmiah dan sebatas imajinasi sutradara Hollywood saja. Namun setelah zaman berkembang, teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) makin maju, akhirnya saya sadar, kalau tak ada yang tidak mungkin di hadapan sains. 

Akan tetapi, ada satu pertanyaan saya, sebagai mahasiswa UIN, yang barangkali lebih “nyeleneh”, yaitu “kalau pada akhirnya robot memiliki kesadaran sebagaimana manusia, apakah mungkin robot kelak juga akan bisa beragama seperti manusia? Kalaupun iya, kira-kira apa agama yang cocok bagi robot? Apakah robot bisa masuk Islam?”

Baca juga: Cara Islam Memandang Konsep Childfree dalam Kehidupan Rumah Tangga

Syarat Menjalankan Agama adalah Berakal Sehat

Selama saya berkuliah di UIN, saya banyak belajar tentang hukum-hukum fikih, dan hampir setiap ibadah atau perintah-perintah agama dalam Islam pasti mengharuskan adanya satu syarat utama dan yang paling utama, yaitu berakal sehat. 

Sehingga dalam pandangan Islam setiap orang yang telah sempurna akalnya punya kewajiban untuk melaksanakan ibadah wajib, dan karenanya mereka disebut dengan mukallaf. Inilah alasan orang gila tidak punya kewajiban melaksanakan perintah agama karena dia dianggap tidak berakal sehat. 

Apakah Akal Hanya Milik Manusia?

Akal, apa itu? Sejauh yang saya tahu, akal adalah potensi atau kemampuan dasar manusia untuk menanyakan, memprediksi, menganalisis dan menyimpulkan terhadap data yang tersimpan di dalam otak. Apakah hanya manusia yang bisa melakukan berbagai hal tersebut? 

Barangkali ketika Nabi Adam turun ke bumi, hanya manusialah, dari sekian makhluk yang ada di bumi, yang otaknya cukup canggih untuk memiliki kemampuan seperti yang disebutkan di atas, menanyakan, memprediksi, hingga menganalisis, dan menyimpulkan data-data inderawi yang kompleks. 

Namun, kini zaman telah berubah, kita telah memasuki era Revolusi Industri 4.0, di mana manusia telah mampu menciptakan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI). Kemampuan ini bukan hanya milik manusia, tetapi juga milik teknologi kecerdasan buatan yang diciptakan oleh manusia. Bahkan tidak hanya kecerdasannya saja yang serupa manusia, dalam beberapa contoh kasus, manusia pun telah menciptakan robot yang juga memiliki fisik yang sangat mirip dengan manusia.

Bisakah Robot Punya Akal dan Kesadaran?

Seperti yang saya katakan pada paragraf-paragraf awal tulisan ini, “tidak ada yang tidak mungkin di hadapan sains”. Sudah tak terhitung jumlah kemajuan sains dan teknologi yang telah mampu mengubah mitos menjadi sebuah kenyataan.

Faktanya AI telah berkembang dengan pesat, mulai dari fitur-fitur di hp kita, seperti Google Assistant, Google Maps, Pengenal Wajah, Timeline di Instagram, hingga iklan-iklan di YouTube yang disesuaikan dengan perilaku kita di internet. Namun, itu baru AI yang dalam tahap rendah, biasa disebut dengan Artificial Narrow Intelligence (Weak AI). 

Ada juga perkembangan AI yang lebih maju, yaitu Artificial General Intelligence (Strong AI). Jika pada AI sebelumnya hanya bisa bekerja pada tugas-tugas spesifik dan hanya bisa berkembang dengan bantuan perancangnya, Strong AI memiliki kemampuan belajar mandiri. 

Pada tingkatan yang kedua ini AI telah mampu berpikir dan belajar selayaknya manusia, tanpa bantuan perancangnya. Namun, bedanya, Strong AI dapat belajar ratusan atau mungkin ribuan kali lebih cepat dari manusia. Walaupun belum benar-benar sempurna, Strong AI diprediksi dapat sempurna pada tiga puluh tahun mendatang. 

Dan tingkat yang paling tinggi adalah Superintelligence, yakni dengan kemampuan belajar mandiri yang dimiliki oleh Strong AI, diprediksi Strong AI akan mencapai tahap kecerdasan Superintelligence, yaitu tahap di mana kecerdasannya akan melampaui manusia. Bukan tidak mungkin dengan kecerdasannya yang luar biasa itu AI nantinya tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional, selayaknya manusia.

Kalau Begitu Robot Bisa Masuk Islam? 

Akan menarik jika Doraemon pada akhirnya masuk Islam dan melaksanakan salat lima waktu, atau ketika robot-robot Terminator berhenti adu jotos ketika azan berkumandang untuk salat Jumat. Atau robot-robot perusak dalam film I-Robot berbondong-bondong bertaubat, bersyahadat, dan menyatakan dirinya masuk Islam. 

Dengan kesadaran yang dimiliki robot, mungkin robot juga akan mengalami kesedihan, marah, frustrasi, atau mungkin merasakan jatuh cinta selayaknya manusia? Sehingga bukan tidak mungkin akhirnya robot pun memerlukan seperangkat doktrin keagamaan untuk memberi makna pada “hidupnya”. Ya, walaupun kita mungkin akan lebih sering berdebat tentang makna kehidupan. Apakah robot yang punya akal dan emosi bisa dikatakan hidup? 

Mungkin sulit untuk kita bayangkan saat ini, mengingat keterbatasan teknologi kita sekarang. Namun, jika itu benar-benar terjadi di masa depan, kita sebagai pemeluk agama yang taat akan dihadapkan pada krisis teologis yang baru. Apakah robot yang punya akal dan emosi itu nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat oleh Tuhan? Bisakah ia masuk ke surga atau neraka? 

Apakah akal dan emosi yang kelak akan dimiliki oleh robot-robot ciptaan manusia itu sama dengan nyawa yang dimiliki oleh manusia? Entahlah, saya juga tidak tahu. Tapi akan menarik melihat sejauh mana sains dan teknologi di masa mendatang mengubah peradaban manusia dan menjadikannya sama sekali berbeda dengan yang kita kenal saat ini.

Editor: Widya Kartikasari
Ilustrator: Salman Al Farisi

Saya mahasiswa PAI di UINSA Surabaya. Saya lahir tanggal 18 September 1999 di Kota Surabaya. Saya punya Instagram kalau berkenan bolehlah difollow @fadh_rmn. Sejauh ini saya belum punya prestasi, dan hanya jadi beban orang tua (emot sedih).

Artikel dari Penulis